Rabu, 19 Januari 2011

kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik

Filed under: Farmasi — vicky puspitasari @ 11:53 pm 
 
Penggunaan antibiotika yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab terjadinya resistensi antibiotika. Resistensi antibiotika telah menjadi permasalahan serius dalam dunia kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia dan memerlukan penanganan yang khusus.

Untuk mengurangi permasalahan tersebut, pada tahun 2005 Departemen Kesehatan Indonesia mengeluarkan pedoman yang berjudul Antimicrobial Resistance, Antibiotic Usage and Infection Control : A Self-assessment Program for Indonesian Hospital. Dalam pedoman tersebut dicantumkan beberapa kegiatan yang melibatkan berbagai macam unsur di rumah sakit, meliputi Sub Komite Farmasi dan Terapi, Sub Komite Pengendalian Infeksi, Mikrobiologi Klinik dan Instalasi Farmasis, yang tergabung dalam Tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Tim Farmasi Klinik –wakil dari Instalasi Farmasi– memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi penggunaan antibiotika secara kualitas dan kuantitas.

Sumber data penggunaan antibiotika dapat diperoleh dari data pembelian, catatan penyiapan antibiotika maupun rekaman pemberian antibiotika.

Pengkajian kuantititas menggunakan Defined Daily Doses (DDD) sesuai yang telah ditetapkan oleh WHO dengan klasifikasi berdasarkan Anatomical Therapeutic Chemical (ATC). DDD adalah dosis rata-rata harian untuk indikasi tertentu pada orang dewasa. Perhitungan DDD dapat juga menggunakan ABC Calc, yang telah digunakan oleh negara-negara di Eropa. Untuk penggunaan di rumah sakit, dihitung sebagai DDD per 100 patient-days.

Sedang pengkajian kualitas antibiotika menggunakan alur Gyssens yang terbagi dalam 6 kategori dan dinyatakan dalam persentase. Kategori pengkajian kualitas antibiotika antara lain penggunaan tepat (I), penggunaan tidak tepat dosis (II A), tidak tepat interval (II B) dan tidak tepat cara pemberian (II C), penggunaan tidak tepat karena terlalu lama (III A) dan terlalu singkat (III B), penggunaan tidak tepat karena ada antibiotika lain yang lebih efektif (IV A), kurang toksik (IV B), lebih murah (IV C) dan lebih spesifik  (IV D), penggunaan antibiotic tanpa ada indikasi (V) serta rekam medik tidak lengkap untuk dievaluasi (VI). Pengkajian secara kualitas tidak dapat dilakukan sendiri oleh tim farmasi klinik, tetapi harus melibatkan tim lain – mikrobiologi klinik dan patologi klinik – untuk mendapat hasil evaluasi yang memadai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar