Part 1
Apoteker adalah orang yang dipercayakan dokter untuk memberi obat kepada pasien sesuai dengan resep dokter, bukan bawahan ataupun suruhan alias pembantu dokter tapi rekan sejawat dokter tepatnya. Untuk mendapatkan gelar apoteker harus melewati perkuliahan jurusan farmasi selama delapan semester gak jauh beda dengan dokter, setelah mendapatkan gelar S. farm seorang calon apoteker harus melanjutkan studi apoteker selama 2 semester kalo pengen buka apotik nantinya, tapi kalo gak lanjutin jg gapapa si,,tapi sekali lagi nanggung aja kalo cuman ambil S1, bakal jadi asisten apoteker paling tinggi jabatannya (karena blum ada PP ttng S1 farmasi ini,makanya disamakan saja dengan tamtn D3 farmasi), setelah mendapatkan gelar apoteker baru boleh deh buka apotik, gak jauh beda juga dengan dokter yang harus ambil ko-ass dulu selama 2 tahun setelah selesai baru boleh buka praktek dokter umum. Mungkin jaman baholak dulu ada yang gak tahu namanya apoteker, dikira yang nyerahin obat diapotik dokter juga ato ada yang gak percaya yang namanya dokter dan apoteker tapi lebih percaya kepada dukuuuuuuun (wah bakal nambah rukun iman “percaya kepada dukun”hehehe), jadi buat kamu-kamu dan orang toempo doloe yang gak tahu tentang perjalanan seorang calon apoteker untuk meraih gelar apoteker sebagai seorang professional dibidang obat-obatan, makanya aku ceritain disini kisah seorang calon apoteker (bintang utamanya cukup satu saja) dan csnya ( peran pambantu yang ikut meramaikan, gak enak kalo sendiri yang ngalamin, penderitaan harus dirasain bersama-sama “prinsip persahabatan” panderitaan aku penderitaanmu, penderitaanmu kebahagiaanku. Hehehe………..ga deng “penderitaanku juga” nanti malah didemon sama orang yang menjunjung tinggi persahabatan-red). Sebenarnya pengalaman ini males banget mau diceritain, tapi karena terinspirasi dari buku-nuku konyol yang lagi meramaikan pasar buku di Indonesia (khususnya buku “cado-cado”nya dr. ferdiriva hamzah “Mr. hiperbola”) makanya aku mau berbagi cerita dengan kalian khususnya bagi calon apoteker atao calon istri dan calon suami apoteker, atao yang pengen jadi calon istri dokter, hehehe….. kan kita teman sejawat alias teman seprofesi pasti sering berhubungan langsung dengan dokter,maksudnya??? apalagi yang muda,,uhuy,,,,,,,,cuci mata euy, pasti ada cinlok, yah…….. saingan dengan perawat-perawat ramah dirumah sakit (ramah klo ketemu dokter muda yg masih jomblo tapi galak dengan pasien) apalagi dengan kita sebagai pesaingnya. Emang beruntung bangetnya jadi dokter tetap aja jadi idola diseluruh masyarakat Indonesia, sekalipun wajah tuh dokter jelex sejelex jelex bebek item tetap aja jadi rebutan (maaf kalo dokternya jelex, aku gak ikut, untuk kalian aja). Beh……………..malah ngawur nih cerita.
Apoteker adalah orang yang dipercayakan dokter untuk memberi obat kepada pasien sesuai dengan resep dokter, bukan bawahan ataupun suruhan alias pembantu dokter tapi rekan sejawat dokter tepatnya. Untuk mendapatkan gelar apoteker harus melewati perkuliahan jurusan farmasi selama delapan semester gak jauh beda dengan dokter, setelah mendapatkan gelar S. farm seorang calon apoteker harus melanjutkan studi apoteker selama 2 semester kalo pengen buka apotik nantinya, tapi kalo gak lanjutin jg gapapa si,,tapi sekali lagi nanggung aja kalo cuman ambil S1, bakal jadi asisten apoteker paling tinggi jabatannya (karena blum ada PP ttng S1 farmasi ini,makanya disamakan saja dengan tamtn D3 farmasi), setelah mendapatkan gelar apoteker baru boleh deh buka apotik, gak jauh beda juga dengan dokter yang harus ambil ko-ass dulu selama 2 tahun setelah selesai baru boleh buka praktek dokter umum. Mungkin jaman baholak dulu ada yang gak tahu namanya apoteker, dikira yang nyerahin obat diapotik dokter juga ato ada yang gak percaya yang namanya dokter dan apoteker tapi lebih percaya kepada dukuuuuuuun (wah bakal nambah rukun iman “percaya kepada dukun”hehehe), jadi buat kamu-kamu dan orang toempo doloe yang gak tahu tentang perjalanan seorang calon apoteker untuk meraih gelar apoteker sebagai seorang professional dibidang obat-obatan, makanya aku ceritain disini kisah seorang calon apoteker (bintang utamanya cukup satu saja) dan csnya ( peran pambantu yang ikut meramaikan, gak enak kalo sendiri yang ngalamin, penderitaan harus dirasain bersama-sama “prinsip persahabatan” panderitaan aku penderitaanmu, penderitaanmu kebahagiaanku. Hehehe………..ga deng “penderitaanku juga” nanti malah didemon sama orang yang menjunjung tinggi persahabatan-red). Sebenarnya pengalaman ini males banget mau diceritain, tapi karena terinspirasi dari buku-nuku konyol yang lagi meramaikan pasar buku di Indonesia (khususnya buku “cado-cado”nya dr. ferdiriva hamzah “Mr. hiperbola”) makanya aku mau berbagi cerita dengan kalian khususnya bagi calon apoteker atao calon istri dan calon suami apoteker, atao yang pengen jadi calon istri dokter, hehehe….. kan kita teman sejawat alias teman seprofesi pasti sering berhubungan langsung dengan dokter,maksudnya??? apalagi yang muda,,uhuy,,,,,,,,cuci mata euy, pasti ada cinlok, yah…….. saingan dengan perawat-perawat ramah dirumah sakit (ramah klo ketemu dokter muda yg masih jomblo tapi galak dengan pasien) apalagi dengan kita sebagai pesaingnya. Emang beruntung bangetnya jadi dokter tetap aja jadi idola diseluruh masyarakat Indonesia, sekalipun wajah tuh dokter jelex sejelex jelex bebek item tetap aja jadi rebutan (maaf kalo dokternya jelex, aku gak ikut, untuk kalian aja). Beh……………..malah ngawur nih cerita.
Masa-masa
melewati jadi seorang apoteker sejati bukan apotekong ataupun apoteker
odong-odong, istilah yang dibuat “pakde alias pak dekan” sekaligus dosen kami
karena mahasiswanya bego-bego semua (menurut beliau) saat ditanya tentang obat
untuk pasien bisul yang terbaik apa????? Mungkin beliau lagi bisulan, soalnya
dari awal masuk sampai jam terakhir beliau ga ada duduk-duduk,gelisah kekiri
kakanan, kekanan kekiri…….. berarti beliau didiagnosa bisulan, wkewkewke…….maap pak, Kami malah bengong aja, diam beribu bahasa,
bukannya gak tahu tapi obat yang mana yang terbaik diantara sebanyak obat bisul
yang ada dipasaran itu yang kami gak tahu (selain ga pernah coba-coba make obat
bisul dan kami belum pernah mencoba cari tahu obat-obat bisul apa aja yang
sedang “in” saat ini, kayak model baju aja hehehe) yang jelas gak ada obat
tanpa resiko efek samping, tergantung respon masing-masing individu, sekalipun
itu hanya obat bisul (berusaha ngeles, padahal emang gak tahu-red)). Kami harus melalui beberapa tahap, setelah kuliah lebih kurang 2 bulan,
kami harus mengikuti pkp (praktek kerja
paruh waktu,,,gak deng praktek kerja profesi tepatnya)
yang telah ditetapkan tempatnya.
Sesuai yang dijadwalkan tempat pkp pertama yang harus aku lalui yaitu rumah
sakit. Aku ditempatkan bersama 20 teman sejawatku di RSUP xxx dibukit tinggi.
Tempat yang adem menurut teman-temanku tetapi menyiksa bagiku (membuat asma dan
influenzaku kambuh, sumpeh 2 malam berturut-turut asmaku kambuh, sempat aku
berpikir apakah hanya sampai disini hidupku-jangan lebay pliz dan influenzaku
berhenti disaat-saat terakhir pkp, nyaris 8 minggu aku influenza trus menerus
tanpa putus kayak kereta api tut tut). Dan kami dibagi dalam beberapa kelompok
dan aku mendapat kelompok paling bontot.
Bangsal
stroke:
Emang
susah ya jadi anak baru, dicuekin, disinisin, didiamin, gak dianggap (lo ada
ato enggak, ga ngaruh buat gw), menyedihkan sekali. Setelah memperkenalkan diri
dengan malu-malu di ruang perawat (ampiun betul-betul gak dianggap waktu kami
ngomong, hanya anggukan kepala dari semua perawat kecuali sedikit komentar dari
kepala ruangan, karena dia yang bertanggung jawab) kami duduk-duduk di kursi
yang telah disediakan didepan ruangan (biasanya anak-anak pkl perawat yang rame
disitu), mau ngapain juga gak tahu, mau lihat status pasien takut sama
perawat-perawat galak. Akhirnya kami udah kayak kambing congek, ato patung
selamat datang
yang tersenyum kepada semua orang yang lewat. Kadang agak bangga dikit kalo ada
yang negur “pagi buk dokter” uhuy padahal kami kan bukan dokter (karena baju
pkp kami mirip dengan jas dokter, bedanya kalo dokter males ngancingin buah
bajunya dan bagian belakang baju paling bawah terbelah sedangkan kami sebaliknya), tapi kami
balas saja dengan senyuman anggun ala dokter (sok berpaham, dengan sedikit
berdehem-dehem), setelah pasien jauh kami senyum-senyum sendiri, menertawakan
ketidakberadaan kami di rumaksakit ini (sungguh menyakitkan, sudah mau apoteker
masih ga dianggap pula,fuih…).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar